Maaf, ya, Ion! (Ori Fic)
![]() |
| Sumber gambar: pixabay.com/Free-Photos |
Suatu malam, Ion ingin mengerjakan tugas matematikanya. Namun, persediaan buramnya sudah habis terpakai. Ion keluar dari kamar, hendak menemui kakaknya, Atom. Saat melewati ruang keluarga, ia melihat sebuah buku tulis tipis di atas meja depan televisi.
Ion membuka
lembarannya. Banyak coretan asal dan catatan kecil tak beraturan. Ia pun
menyimpulkan bahwa buku itu juga buram. Untuk memastikan, Ion pergi ke kamar
Atom.
Tok! Tok!
“Ada apa, Ion?”
Atom bersuara dari dalam.
“Buku tulis di
meja ruang keluarga, boleh kupakai untuk buram?” tanya Ion. Ia menempelkan
telinga di pintu.
“Ya, pakai
saja,” jawab Atom. “Tapi, jangan dirobek dan pakai halaman baru. Jangan di
lembaran yang sudah kupakai,” pesannya panjang lebar.
“Okeee! Terima
kasiiih!” teriak Ion, lalu berlari ke kamarnya.
Keesokan
harinya, sebelum berangkat sekolah, Atom meminta buku tipis bersampul animasi
pendekar itu pada Ion. Ion memberinya. Atom merobek satu lembaran kosong dari
halaman belakang.
“Eh, itu kok dirobek
dari belakang?” Ion panik. “Lembaran di depannya, ‘kan, bisa robek juga.”
Atom
menenangkan. “Tidak apa. Nanti kuselipkan saja di buku yang lain.”
Ion mengangguk
mengerti. Malamnya, ia kembali meminjam buku itu. Namun, lembar yang harusnya
robek, belum dipisahkan Atom. Masih menempel di buku itu dengan posisi yang
sangat berbahaya. Ion hati-hati sekali membuka halamannya. Akhirnya, Ion hanya
memakainya sebentar karena takut. Ia merelakan halaman belakang bukunya dicoret
dengan pensil.
Paginya, Ion menyerahkan
buku itu pada Atom sebelum diminta. Ia menekan kuat buku itu agar lembarannya
tidak lepas dan terjatuh. Hal sama dilakukan oleh Atom.
Di sekolah, Atom
melihat lembaran ‘itu’ menyembul ke luar, sehingga ia merobeknya dan
menyelipkan di buku cetak kimianya. Buku itu dimasukkan ke laci mejanya.
Sepulang
sekolah...
“Kalian jadi
ikut ke rumahku?” tanya Atom pada kedua temannya.
“Ya,” jawab
Unsur. “Aku lagi malas berpikir. Jadi, aku salin yang kau kerjakan, ya?”
“Aku juga,”
sahut Senyawa. “Catatanku belum kurapikan. Aku tidak tahu harus melihat yang
mana,” curhatnya.
Kemudian, mereka
pergi bersama menuju rumah Atom. Tugas yang mereka bicarakan memang dikumpul
tiga hari lagi. Tapi, seperti biasa, tugas yang lain akan menyusul. Jadi, mau
tidak mau harus menyicil.
Di ruang tamu,
Ion sudah mengantar minuman untuk mereka bertiga. Atom membuka tasnya dan
mencari ‘buku pendekar’-nya. Ternyata tidak ada. Atom mulai panik, tidak tahu
mau bilang apa.
“Ehm,
teman-teman...” Atom membuka pembicaraan. “Aku ke kamar sebentar, ya.
Sepertinya, bukunya tertinggal di sana.”
“Oke,” jawab
keduanya bersamaan.
Bukannya ke
kamar, Atom malah menghampiri Ion yang sedang makan siang—di dapur.
“Ion...”
panggilnya.
“Hm?” Ion
berhenti mengunyah.
“Ehm, maaf,”
Atom menggaruk kepala. “Aku ingat kau sudah memberi buku itu tadi pagi,”
ucapnya ragu. “Tapi, sekarang tidak ada. Apa kau melihatnya?”
Ion menggeleng.
“Coba lihat di laci dalam tasmu,” sarannya.
“Oh, iya!” Atom
berlari lagi ke ruang tamu, memeriksa laci dalam tasnya.
Buku pendekarnya
memang ada. Tapi, lembaran tempat jawaban tugasnya tidak ada. ‘Buku cetak kimia!’ batin Atom.
Dibukanya lembar demi lembar buku tebal itu. Ia sampai membentangkannya agar
kertas yang terselip bisa terjatuh. Sia-sia, tak ada hasil.
Dengan penuh
kecewa, Atom mengumumkan, “Sepertinya kalian salin besok saja. Kertasnya
hilang. Aku akan kerjakan ulang nanti malam.”
“Yah... Sabar,
ya, Atom,” Unsur memasang raut sedih.
Senyawa
menyahut, “Maaf, ya, merepotkan.”
“Ah, tidak apa,”
Atom tersenyum. “Kalian makan siang di sini, ya,” ajaknya. “Barangkali bisa
menebus kecerobohanku.”
“Haaah?” Unsur
kaget. “Mengapa jadi dirimu yang merasa bersalah? Kami, lho, yang minta
tolong.”
Atom berpikir.
“Kalau begitu, sekali seumur hidup,” ucapnya misterius. “Bagaimana jika kalian
tidak akan bisa ke sini lagi?”
Unsur dan
Senyawa berpandangan, kemudian menyerah. Mereka bertiga pergi ke dapur untuk
makan bersama.
Malamnya,
sedikit perselisihan terjadi.
“Kau yakin tidak
melepas lembar itu?” Atom masih tidak percaya.
“Iya!” jawab Ion
tegas. “Aku ingat, kemarin tidak lama memakainya karena takut terlepas,”
tambahnya.
Atom
mondar-mandir. “Mengapa tidak langsung kau antar?”
Ion tak bisa
menjawab, sekalipun ia tidak bersalah. Alisnya berkerut karena kesal.
“Ya, ampun...
Andai saja kau antar langsung, tidak akan begini jadinya...” Atom berkata
dengan nada stres.
Ion menyanggah,
“Tapi, kau sendiri yang bilang menyelipkannya di buku kimiamu...” Suaranya
mulai bergetar.
“Bukan, ternyata
itu kertas lain,” tolak Atom, ia menjatuhkan diri ke sofa karena panik
habis-habisan.
“Aku tidak tahu,
Atom...” tekan Ion. Ia berdiri, bersiap pergi ke kamarnya. “Maaf, karena tidak
langsung mengantar.” Mata Ion berkaca-kaca. “Tapi, sungguhan. Aku tidak
mengambil lembarannya,” tekannya lagi. “Maaf, ya. Seharusnya kutempel dulu
pakai selotip.”
Atom tersentak.
“Nah, kau tahu itu, ‘kan?!” hentaknya.
Ion tak tahan
lagi. Ia bergegas ke kamarnya. Air matanya tak terbendung. Tapi, syukurlah
suaranya bisa. Ion tak biasa menangis bersuara, melainkan menumpuk saat menahan
air mata.
‘Sungguhan... Aku tidak mengambilnya...’
teriak Ion dalam hati, mengulang kalimat itu terus-menerus, berharap Atom
mendengarnya.
Keesokan
harinya, Ion bangun 30 menit lebih cepat dari biasanya. Otomatis,
keberangkatannya pun begitu. Masih 50 menit sebelum bel, Ion sudah sampai di
sekolah.
Ion tidak tahu;
tadi pagi, Atom diam karena tak ada topik atau masih kesal. Ion juga masih
takut memulai pembicaraan. Karenanya, ia berangkat duluan dengan sepeda tanpa
berpamitan!
Di kelas, ia
sendirian selama kurang lebih sepuluh menit. Ia gunakan untuk merapikan catatan
Bahasa Inggrisnya.
.
“Pulang dengan
siapa, Ion?” tanya Elektron.
“Naik sepeda,
El,” jawab Ion tersenyum. “Mau bareng?” tawarnya.
“Boleh,”
Elektron setuju. Mereka jalan ke parkiran sepeda. “Tumben. Tidak dengan
kakakmu?” Elektron penasaran.
Ion mengangguk.
“Dia sedang marah padaku.”
Elektron naik ke
sepedanya. “Eh? Ada apa?”
Ion turut naik,
bersiap mengayuh, “Ia menuduhku mengambil kertas jawabannya,” Ion bercerita di
samping Elektron. Mereka mengayuh berdampingan. “Padahal, dia sendiri yang
bilang kalau kertas itu diselipkan di buku kimianya.”
Sementara itu...
Senyawa lewat di
samping Atom. “Periksa lacimu, Atom,” ujarnya. “Jangan ada sampah jika tidak
mau didenda.” Kemudian, ia berlalu.
“Sip.” Atom
melaksanakan ucapan Senyawa.
Sret...
Atom meraih
sehelai kertas dari lacinya. Awalnya ingin diremukkannya. Namun, ia penasaran,
kertas apa yang menjadi sampah di lacinya.
Ia meratakan
kertas itu karena sudah sempat ia remukkan sedikit. Betapa kagetnya ia saat
tahu bahwa itu adalah kertas yang dicarinya kemarin! Yang membuat ia sampai
menuduh adiknya, Ion, karena kesalahannya sendiri! Kecerobohannya sendiri!
Buru-buru ia
masukkan ke tas. Secepat kilat, ia menuju parkiran untuk pulang. Dengar-dengar,
Unsur dan Senyawa sudah menyalinnya dari teman lain sehingga Atom tak pikirkan
mereka lagi.
Di rumah, Ion
sedang makan siang. Terdengar suara sepeda motor Atom. Ion mempercepat
makannya. Berhasil, sebelum Atom ke dapur, Ion sudah selesai.
“Sudah makan?”
tanya Atom seperti biasa.
“Ya,” jawab Ion
singkat tanpa memandang Atom. Ia langsung masuk ke kamar untuk tidur siang.
Keesokan
harinya, terjadi hal sama. Begitu juga hari-hari selanjutnya. Atom pikir, Ion
hanya kebetulan bangun cepat hari itu. Maka, ia putuskan untuk bangun seperti
biasa. Ya, dugaannya salah. Ion menjadi rutin bangun cepat sehingga Atom selalu
ketinggalan.
Muncul perasaan
bersalah dalam diri Atom. Ia ingin minta maaf. Ion semakin parah ‘diam’-nya
terhadap Atom. Atom ingin melakukan sesuatu, memberikan sesuatu, atau apa saja
yang bisa meluluhkan hati adiknya itu.
“Atom, belikan aku headset itu, ya,” Ion menunjuk etalase yang ada headset bergambar kelinci di sisi penutup
telinganya.
“Sekarang?” tanya Atom.
“Tidak!” sanggahnya. “Kapan kau mau saja. Aku tidak
paksa, kok.”
Cling! Lampu
terang bersinar di atas kepala Atom. Segera ia periksa buku tabungannya. ‘Yes!’ serunya dalam hati penuh
kemenangan.
Kemudian, pada
suatu Sabtu malam, ketika Ion sedang makan malam, Atom mendatanginya.
“Selamat malam,”
salam Atom padanya, basa-basi. Kedua tangannya ada di balik tubuhnya, seperti
menyembunyikan sesuatu.
“Hm?” Ion
menggumam singkat seraya menyuap makanannya.
“Maaf, ya,” ucap
Atom, namun belum dilihat oleh Ion. “Ion, lihat ini! Aku minta maaf!” teriaknya
sambil menunjukkan headset itu.
Mau tak mau, Ion
berat hati melihatnya. Namun, saat ia melihat, perasaan itu hilang. Matanya
berbinar-binar, tak percaya bahwa Atom akhirnya membelikan benda itu untuknya.
“Atom, kau
gila,” Ion bangkit berdiri dan berjalan menuju Atom. “... Dan bodoh. Dasar...”
Atom memberikan
‘hadiah mendadak’ itu dan Ion menerimanya dengan senang hati. Ia bahkan
membelikan itu hanya karena ingin dimaafkan oleh Ion.
Atom tetap
merentangkan tangannya. Ion melihat itu dengan pandangan aneh. Tapi, ia
kemudian tahu apa maksud Atom. Tanpa basa-basi lagi, mereka saling berpelukan
satu sama lain. Akhirnya, semua kembali seperti sedia kala.

Comments
Post a Comment