Malam
![]() |
| Pixabay.com/PublicDomainPictures |
Malam di tahun terakhir bukan lagi kelam. Melainkan penuh akan peluh dari letih serta hasil kuras tenaga untuk usaha.
Langit jingga sore nyaris tak pernah terpandang. Demi masa depan cerah. Sampai larut di tempat berjuang.
Menerobos ketakutan akan ngerinya manusia-manusia gelap. Bersabar menunggu penjemput publik. Terlebih, menunggu diri ini.
Tak bisa dipungkiri, kenyataan akan destinasi berlawanan lah memaksa kalian. Baik, sampai kapan pun itu. Sayang, selamanya akan begitu. Kebersamaan, yang menahan 'tuk menghapus. Lambai dan salam memisahkan.
Sekitar ratusan kaki lagi harus melangkah. Muncul lagi ketakutan itu. Kemudian sadar akan jenis diri ini. Kodrat, lemah, dan harus dilindungi, malah menerobos lorong menyeramkan untuk meraih istananya. Punggung pundak memikul, kedua tangan memeluk, kaki tak jenjang, napas memburu—antara lelah dan takut—dan yang pasti harapan dan doa padaNya.
Semua menemani. Alunan senandung lewat elektronik genggam terkadang. Walau hanya terpasang satu atau dua saja, setidaknya mampu memacu jantung untuk melangkah lebih cepat.
Selalu ingin daerah itu masih ramai dan benderang. Sampai di tujuan dengan selamat, lega sekali.
Janji untuk tidak membocorkan pada pimpinan. Jangan sampai beliau khawatir, atau harus menyerahkan biaya lebih hanya untuk penjemput umum.
21.02.2017

Comments
Post a Comment